Browse By

Logika Kebudayaan Dalam Retorika Publik: Analisis Entimem Dan Silogisme Aristotelian Pada Narasi Dedi Mulyadi

Oleh: Yudhy Elwahyu (Creative Director, Jurnalis, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina)

Kolase Dedi Mulyadi dan Yudhy Elwahyu

Dalam diskursus retorika publik (public rhetoric), aktivitas komunikasi bukan sekadar instrumen linguistik untuk menyusun kalimat estetis, melainkan sebuah manifestasi logis dalam memetakan serta mengaktualisasikan alat persuasi yang relevan dengan situasi ruang yang dihadapi. Aristoteles memberikan penekanan bahwa efektivitas sebuah pesan dalam komunikasi publik sangat bertumpu pada validitas bukti logis atau logos.

Melalui koridor berpikir tersebut, studi ini bertujuan untuk membedah bagaimana seorang figur publik mengartikulasikan struktur logika formal silogisme beserta derivasi praktisnya—yang dikenal sebagai entimem (enthymeme)—untuk merekonstruksi cara pandang kolektif masyarakat. Fokus analisis diarahkan pada diskursus yang diproduksi oleh tokoh publik Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ketika merespons maraknya fenomena klenik dan ritual pemujaan mistis di berbagai situs peninggalan sejarah Sunda.

Silogisme menempati posisi sentral sebagai pilar utama penalaran deduktif dalam tradisi logika Aristotelian. Formulasi struktural ini mewajibkan penarikan konklusi yang bersifat niscaya dan absolut, yang diturunkan dari dua premis yang kebenarannya telah teruji dan diakui secara konsensus. Anatomi penalaran ini terdiri atas tiga elemen esensial. Pertama, Premis Mayor, yang merepresentasikan postulat kebenaran universal atau norma hukum umum yang diakui secara luas oleh publik. Kedua, Premis Minor, yang mengemukakan data empiris, fakta konkret, atau kasus partikular yang sedang diinvestigasi. Ketiga, Kesimpulan (Konklusi), yang muncul sebagai konsekuensi logis mutlak saat kasus spesifik pada premis minor diintegrasikan ke dalam cakupan prinsip universal premis mayor.

Dalam melandasi argumen Dedi Mulyadi terkait konservasi situs sejarah, konstruksi silogisme formal yang melatarbelakangi rasionalitas pemikirannya dapat diurai secara mekanistik sebagai berikut:

  • Premis Mayor: Seluruh situs peninggalan sejarah dan kebudayaan bangsa wajib dilestarikan, dihormati, serta diinterpretasikan sebagai artefak peradaban masa lalu, bukan dieksploitasi sebagai lokus pemujaan mistis.
  • Premis Minor: Situs peninggalan sejarah Sunda merupakan bagian integral dari peninggalan sejarah dan kebudayaan bangsa.
  • Kesimpulan: Maka dari itu, situs peninggalan sejarah Sunda wajib dilestarikan, dihormati, serta diinterpretasikan sebagai artefak peradaban masa lalu, bukan dieksploitasi sebagai lokus pemujaan mistis.

Kendati silogisme formal bertindak sebagai jangkar epistemologis dalam berpikir, realitas empiris menunjukkan bahwa komunikator politik cenderung mengadopsi varian retorika yang lebih taktis, yaitu entimem. Secara konseptual, entimem merupakan bentuk silogisme yang direduksi atau tidak lengkap karena secara sengaja mengeliminasi salah satu premisnya demi menjaga keluwesan dan ritme komunikasi di ruang publik.

Dalam performa komunikasi Dedi Mulyadi, mekanisasi entimem ini beroperasi secara eksplisit dengan mengawinkan Premis Minor (kasus partikular situs Sunda) langsung dengan Kesimpulan praktisnya. Ia melakukan lompatan argumentatif menuju kritik sosiologis bahwa publik harus memandang situs sejarah Sunda sebagai representasi kecerdasan arsitektural para leluhur, alih-alih menjadikannya ruang klenik.

Pada titik ini, Premis Mayor yang mengandung kebenaran universal—bahwa apresiasi rasional terhadap sejarah dan preservasi bukti peradaban kuno adalah tindakan yang absah—sengaja diartikulasikan secara implisit atau dibiarkan “mengambang”. Strategi komunikasi ini terbukti andal karena prinsip universal tersebut telah terinternalisasi sebagai pengetahuan bersama (shared knowledge) dalam struktur kognitif khalayak.

Melalui kacamata Aristotelian, pemanfaatan entimem sebagai instrumen logos ini secara simultan mengaktivasi pilar ethos dan pathos melalui pendekatan sosiologis yang presisi. Ketika Dedi Mulyadi memosisikan diksi “kecerdasan arsitektur dan peradaban leluhur,” ia tidak sekadar menyodorkan data empiris-rasional, melainkan sedang mengeskalasi afeksi serta kebanggaan kultural (pathos) kolektif masyarakat Sunda yang memiliki ikatan emosional kuat terhadap nilai tradisi. Pada saat yang sama, sublimasi kritik rasionalnya terhadap aktivitas klenik mengukuhkan kredibilitas dirinya (ethos) sebagai sosok pemimpin yang kokoh memegang nilai adat namun tetap berorientasi pada nalar modern-ilmiah. Dengan demikian, entimem bertransformasi dari sekadar alat logika formal menjadi jembatan psikososial yang interaktif, persuasif, dan bebas dari kesan mendikte audiens.

Eksplorasi ini menegaskan bahwa praktik komunikasi politik di panggung publik sangat didominasi oleh artikulasi entimem. Melalui dekonstruksi pembatasan premis formal, seorang retor mampu menyederhanakan argumen filosofis yang rigid menjadi narasi persuasif praktis yang mudah diinternalisasi oleh massa. Refleksi dari narasi Dedi Mulyadi membuktikan bahwa efektivitas public rhetoric yang superior tercapai ketika logika formal yang kaku berhasil direformasi secara adaptif menjadi logika publik yang dinamis, yang pada akhirnya mampu menggerakkan kesadaran kultural dan memicu transformasi sosial masyarakat.

Referensi